Pemilu di Amerika Serikat 4 November 2008 kemarin, menghantarkan Senator Negara Bagian Illinois Barack Obama menjadi Presiden ke 44. Suatu hal yang mustahil bahwa seorang yang berkulit hitam mampu meraih simpati rakyat AS dengan kemenangan mutlak. Karena mistos yang berkembang dimasyarakat AS, bahwa seorang yang berkulit hitam sangat sulit menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam tersebut. Perbedaan Ras yang mayoritas rakyatnya berkulit putih dan minoritas berkulit hitam menyebabkan proses tersebut baru dapat dilewati selama 216 tahun. Momentum tersebut menggambarkan kepada dunia internasional bahwa semua mungkin terjadi di Amerika.
Jika berkaca pada pemerintahan George W Bush, sejak tahun 2000 dan akan berakhir pada awal bulan Januari 2009 yang akan datang. Banyak kebijakan yang dijalankan tidak populis dimata dunia Internasional, seperti invasi ke Irak, pendudukan di Afganistan, serta perekonomian yang semakin memburuk di dalam negeri. Hal ini membuat rakyat AS berfikir obyektik, bahwa sejak pemerintahan Bush sesungguhnya demokrasi di Amerika semakin berada dititik nadir. Sehingga apa yang Obama tawarkan kepada masyarakat AS adalah suatu keinginan rakyat AS, atas perubahan (change) dari Negara intervensionis menjadi Negara yang menghargai kedaulatan Negara lain, serta perbaikan ekonomi akibat krisis finansial yang terjadi belakangan ini.
Hasil pemilu di AS adalah buah dari kesungguhan dari ide dan gagasan seorang Obama, akan perubahan didalam negerinya, melampaui dari sekedar permasalahan antara kulit hitam atau putih, berasal dari mayoritas atau minoritas.
Bagaimana dengan Indonesia…?
Di Indonesia perbedaan Ras sudah diakomodir oleh Pancasila dan UUD 1945 dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dan ini sudah menjadi cara berfikir bersama dalam hubungan berbangsa dan bernegara. Walaupun ada segolongan masyarakat yang salah menafsirkan serta memahami kebhinekaan tersebut. Namun yang ingin ditekankan dalam tulisan ini bukan pada perbedaan Ras di Indonesia yang begitu majemuk. Tetapi penulis mencoba ingin menggambarkan proses demokratisasi di AS, terkait terpilihnya seorang Obama menjadi presiden yang berkulit hitam dengan dukungan penuh dari warganya yang mayoritas berkulit putih. Dikaitkan dengan proses suksesi kepemimpinan yang akan digelar di negeri kita. Bahwa selama ini banyak menjadi perdebatkan antara pro kontra terkait kepemimpinan muda dan tua yang marak menjadi wacana akhir-akhir ini, menjelang Pemilu 2009.
Jika kita pelajari dari seorang Obama, ia dapat menarik perhatian rakyat AS yang mayoritas berkulit putih, pada Visi perubahan yang ia suarakan terkait kesejahteraan dan perdamaian didalam negerinya. Padahal ia seorang keturunan afrika-amerika yang nota bene berkulit hitam.. Hal ini menurut penulis bahwa Visi yang ia suarakan melampaui dari sekedar Eksistensi seorang kulit hitam antara mampu atau tidaknya menjadi seorang presiden di negeri adi kuasa tersebut, namun pada Visi kepemimpinan yang ia tawarkan.
Demikan halnya dengan Indonesia, sesuatu yang menjadi perdebatan akhir-akhir ini adalah kontroversi antara pemimpin tua dan muda yang layak dan mampu menjadi pemimpin di negeri ini pasca Reformasi 1998. Jika kontroversi tersebut lebih ditekakan pada usia tua dan mudanya seorang pemimpin Indonesia dimasa yang akan datang, maka akan kontraproduktif dari subtansi atau cita-cita yang termaktub dalam Pancasila dan UUD 1945. Karena keberhasilan suksesi kepemimpinan 2009 dan suksesi selanjutnya tidak terletak pada keberhasilan seorang muda dan tua dalam merebut kekuasaan, lebih dari itu bahwa apakah Visi yang ia tawarkan sesuai atau tidak merepresentasikan cita-cita bangsa serta tantangan di setiap zamannya.
Sehingga hemat penulis bahwa seorang muda akan layak menjadi pemimpin dinegeri ini jika visi yang ia tawarkan dapat mempresentasikan kedaan bangsa ini dari keterpurukan, ketertinggalan dan keterbelakangan menjadi agenda utama pemerintahannya serta bukan pada kemampuan retoris belaka tanpa implementasi.
Jika menelaah spirit dari pesan Rasullah SAW “Bukanlah kaum muda yang mengatakan, ini (pemberian) bapakku, tetapi kaum muda yang berani mengatakan ini aku”. Maka dalam hal ini kepemimpinan seperti apa yang dicita-citakan bersama akan terwujud. Karena kepemimpinan bukanlah pemberian melainkan buah usaha yang sungguh-sungguh dari apa yang diupayakan. Sehingga sangat mungkin dan terbuka peluang besar bagi anak muda untuk merebut kepemimpinan tersebut dengan visi yang jelas serta kemampuan dalam menjalankannya.